Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Saturday, 18 March 2017

Perkembangan Banten Abad 16 Sejarah Indonesia






Banten berkembang menjadi kota bandar yang ramai dikunjungi pedagang asing. Pada masa penjelajah belanda, Cornelis de Houtman berkunjung ke Banten pada tahun 1596 Kota Banten telah berkembang menjadi bandar lada yang ramai. Beberapa Laporan yang di tulis oleh bawahan Cornelis de Houtman menjelaskan kapal asing yang berlabuh di Banten memerlukan izin syahbandar. Orang yang masuk menuju pusat kota dari banda(pelabuhan) harus melewati gerbang dan di kenai pajak. Selain itu, Kota Banten di kelilingi oleh tembok bata. Kota tersebut memiliki masjid agung dan tiga pasar. Pasar terbesar adalah karang Antu terletak di sebelah timur pusat kota.


Dibawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682) Banten berhasil mengungguli Aceh dan Makasar sebagai bandar perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Berkat kekayaan lada, Banten dapat meningkatkan pelayaran dan mengadopsi berbagai teknologi Barat. Selain itu, pada masa itu Banten berhasil membangun armada yang kuat. Setiap tahun armada dagang Banten berlayar ke Manila, India, Jeddah, Vietnam, China, dan Jepang. Perdagangan jarak jauh tersebut dilakukan dengan jung jung berukuran besar. Sultan Ageng Tirtayasa menyewa nahkoda Inggris dan Portugis untuk membawa kapal-kapal pemasaran lada dalam perdagangan jarak jauh tersebut. Kekayaan lada di banten juga di gunakan untuk membiayai keperluan kerajaan seperti pembangunan taman peristirahatan taman peristirahatan raja, penyelangaraan pesta mewah, armada perangg, menjamu tamu agung, dan mengayomi  cendekiawan islam.

Itulah pekembangan banten pada abat 16 pelajaran sejarah indonesia

Thursday, 16 March 2017

Bukti-Bukti Sejarah Kerajaan Perlak



Kerajaan Perlak







Berdirinya kerjaan perlak masih menjadi perdebatan para ahli. Menurut sejarawan Ali Hasjmy, kerjaan perlak diperkirakan berdiri pada tahun 840 hingga 1292. selain itu, terdapat catatan dari para penjelajah asing yang menginformasikan kerjaan Perlak. Seorang ahli geografi Cina bernama Chou Ku-Fei menyatakan pada tahun 1178 telah ada negri orang islam yang jaraknya hanya lima hari pelayaran dari jawa. Negeri yang di maksud adalah Perlak. Sementara itu, seorang musafir venesia bernama MarcoPolo yang singgah di perlak pada tahun 1291 menjelaskan sebagian besar penduduk perlak sudah memeluk islam.


Kondisi Geografis


Menurut analisis para ahli, kerajaan perlak di perkirakan terletak di Kecamatan Peurelak, Kabupaten Aceh Timur, Aceh saat ini. Pusat Kerajaan Perlak sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka di sebelah utara. Letak strategis tersebut menyebabkan Perlak dapat berkembang menjadi pusat perdagangan maritim di Sumatra bagian utara. Pelabuhan Perlak disinggahi banyak kappal dagang dari arab, Gujarat, dan Persia.
Adapun Raja-Raja yang memerintah di Kerajaan Perlak adalah:

A. Dinasti Saiyyid Maulana 

1. Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Abdul Aziz Syah (840-864)
2. Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Abdur Rahim Syah (864-888)
3. Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Abbas Syah (888-913)
4. Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Ali Mughayah Syah (915-918)
 

B. Dinasti Makhdum Johan Berdaulat

1. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah Johan Berdaulat (918-922)
2. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (922-946)
3. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Joha Berdaulat (946-973)
4. a. Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Mahmud Syah (976-988/Syiah)
b. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (976-1012/Sunni)
5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (1012-1059)
6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat (1059-1078)
7. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (1078-1108)
8. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat (1108-1134)
9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah II Johan Berdaulat (1134- 1158)
10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Syah Johan Berdaulat (1158-1170)
11. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Syah Johan Berdaulat (1170- 1196)
12. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Jalil Syah Johan Berdaulat (1196- 1225)
13. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Amin Syah II Johan Berdaulat (1225-1263)
14. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (1263- 1292)

Peran Pedagang Dalam Proses Integrasi Bangsa Indonesia Pada Zaman Kerjaan Islam







         Sejak zaman kuno kepulauan indonesia menjadi tempat persilangan jaringan pelayaran yang menghubungkan peradaban Romawi, Timur tengah, India, dan China. Sebagai wilayah yang di lalui lalu lintas pelayaran dunia, indonesia sangat strategis untuk perdagangan internasional. Kondisi ini juga di dukung keberadaan komoditas bernilai tinggi seperti rempah rempah, lada, emas, kapur barus, kayu cendana, dan beras.


       Jaringan perdagangan tersebut menyebabkan munculnya kota kota pelabuhan seperti malaka, aceh,  Banten, Demak, Tuban, Gresik, Makasar, dan Ternate. Kota kota di pelabuhan ini menjadi tempat pertemuan bagi para pedagang dari berbagai pulau yang memiliki latar belakang budaya berbeda beda. Keberadaan para pedagang tersebut telah memperlancar aliran komoditas perdagangan dunia.


     Jatuhnya malaka ke tangan portugis pada tahun 1511 meyebabkan sebagian besar kegiatan perdagangan di alihkan ke Aceh, Banten, Gresik, dan Makasar. kota kota ini kemudian berkembang menjadi pusat pusat pedagangan baru menggantikan malaka.


        Dapat disimpulkan secara historis aspek perdagangan memengaruhi proses integrasi bangsa. Para pedagang indonesia memiliki kepentingan bersama untuk mengambil kembali perannya di bidang perdagangan setelah kejayaan mereka di runtuhkan oleh sistem monopoli bangsa bangsa eropa. sikap solidaritas sebagai satu bangsa timbul setelah mereka memiliki kepentingan bersama untuk menghadapi monopoli bangsa bangsa barat.


Mengapa Bahasa Melayu Mudah di Terima Pedagang Indonesia



        Sikap pedagang indonesia yang berfikir praktis dalam kegiatan perdagangan menyebabkan bahasa melayu di pilih sebagai bahasa dalam transaksi perdagangan. Bahasa ini di gunakan untuk mempelancar komunikasi dalam perjanjian dagang, penentuan harga, dan jenis barang yang di perdagangkan. Penggunaan bahasa melayu tersebut mampu mengatasi permasalahan komunikasi yang di sebabkan oleh perbedaan bahasa dan budaya dari berbagai suku bangsa indonesia.







         Penggunaan bahasa Melayu dalam komunikasi dagang juga di pengaruhi oleh sikap terbuka dan toleransi antar pedagang indonesia. Sika terbuka yang dimiliki para pedagang tersebut merupakan landasan pokok bagi terintegrasinya suku suku bangsa indonesia. dengan katar belakang bahasa dan budaya berbeda, para pedagang indonesia menyadari bahwa mereka tidak dapat memaksakan bahasa dan budayanya kepada bangsa lain karena dapat menimbulkan konflik.


        Sebagai lingua franca, bahasa melayu mudah menerima dan digunakan para pedagang indonesia karena faktor faktor berikut.

a. Struktur bahasa sederhana sehingga setiap orang mudah menerima dan menuturkanya.
b. Bahasa Melayu bersifat merakyat, tidak terdapat perbedaan pada tingkatan masyarakat seperti dalam bahasa jawa.

Faktor faktor di atas melatarbelakangi  para tokoh nasionalis untuk menjadikan bahasa melayu sebagai dasar dari bahasa indonesia.

~MasTutor~

Wednesday, 15 March 2017

Sejarah Indonesia Kerajaan Islam di Kalimantan



Kerajaan Pontianak

Kerajaan-kerajaan yang terletak di daerah Kalimantan Barat antara lain Tanjungpura dan Lawe. Kedua kerajaan tersebut pernah diberitakan Tome Pires (1512-1551). Tanjungpura dan Lawe menurut berita musafir Portugis sudah mempunyai kegiatan dalam perdagangan baik dengan Malaka dan Jawa, bahkan kedua daerah yang diperintah oleh Pate atau mungkin adipati kesemuanya tunduk kepada kerajaan di Jawa yang diperintah Pati Unus. Tanjungpura dan Lawe (daerah Sukadana) menghasilkan komoditi seperti emas, berlian, padi, dan banyak bahan makanan. Banyak barang dagangan dari Malaka yang dimasukkan ke daerah itu, demikian pula jenis pakaian dari Bengal dan Keling yang berwarna merah dan hitam dengan harga yang mahal dan yang murah. Pada abad ke-17 kedua kerajaan itu telah berada di bawah pengaruh kekuasaan Kerajaan Mataram terutama dalam upaya perluasan politik dalam menghadapi ekspansi politik VOC.
Demikian pula Kotawaringin yang kini sudah termasuk wilayah Kalimantan Barat pada masa Kerajaan Banjar juga sudah masuk dalam pengaruh Mataram, sekurang-kurangnya sejak abad ke-16. Meskipun kita tidak mengetahui dengan pasti kehadiran Islam di Pontianak, konon ada pemberitaan bahwa sekitar abad ke-18 atau 1720 ada rombongan pendakwah dari Tarim (Hadramaut) yang di antaranya dating ke daerah Kalimantan Barat untuk mengajarkan membaca al- Qur’an, ilmu fikih, dan ilmu hadis. Mereka di antaranya Syarif Idrus bersama anak buahnya pergi ke Mampawah, tetapi kemudian menelusuri sungai ke arah laut memasuki Kapuas Kecil sampailah ke suatu tempat yang menjadi cikal bakal kota Pontianak. Syarif Idrus kemudian diangkat menjadi pimpinan utama masyarakat di tempat itu dengan gelar Syarif Idrus ibn Abdurrahman al-Aydrus yang kemudian memindahkan kota dengan pembuatan benteng atau kubu dari kayu-kayuan untuk pertahanan. Sejak itu Syarif Idrus ibn Abdurrahman al-Aydrus dikenal sebagai Raja Kubu. Daerah itu mengalami kemajuan di bidang perdagangan dan keagamaan, sehingga banyak para pedagang yang berdatangan dari berbagai negeri.

Raja

Pemerintahan Syarif Idrus (lengkapnya: Syarif Idrus al-Aydrus ibn Abdurrahman ibn Ali ibn Hassan ibn Alwi ibn Abdullah ibn Ahmad ibn Husin ibn Abdullah al-Aydrus) memerintah pada 1199-1209 H atau 1779-1789 M. 
Cerita lainnya mengatakan bahwa pendakwah dari Tarim (Hadramaut) yang mengajarkan Islam dan datang ke Kalimantan bagian barat terutama ke Sukadana ialah Habib Husin al-Gadri. Ia semula singgah di Aceh dan kemudian ke Jawa sampai di Semarang dan di tempat itulah ia bertemu dengan pedagang Arab namanya Syaikh, karena itulah maka Habib al-Gadri berlayar ke Sukadana. Dengan kesaktian Habib Husin al-Gadri menyebabkan ia mendapat banyak simpati dari raja, Sultan Matan dan rakyatnya. Kemudian Habib Husin al- Gadri pindah dari Matan ke Mempawah untuk meneruskan syiar Islam. Setelah wafat ia diganti oleh salah seorang putranya yang bernama Pangeran Sayid Abdurrahman Nurul Alam. Ia pergi dengan sejumlah rakyatnya ke tempat yang kemudian dinamakan Pontianak dan di tempat inilah ia mendirikan keraton dan masjid agung. Pemerintahan Syarif Abdurrahman Nur Alam ibn Habib Husin al-Gadri pada 1773- 1808, digantikan oleh Syarif Kasim ibn Abdurrahman al-Gadri pada 1808-1828 dan selanjutnya Kesultanan Pontianak di bawah pemerintahan sultan-sultan keluarga Habib Husin al-Gadri.

Sejarah Indonesia Fungsi Kompas dan Astrolab Pada Kegiatan Perdagangan Masa Kuno



NAVIGASI Merupakan kemampuan yang wajib di miliki dalam kegiatan pelayaran. Pelaut pada masa kuno menggunakan dua alat navigasi sebagai pedoman perjalanan, yaitu kompas dan astrolab.
 




Kompas di gunakan untuk menentukan arah da temoat meurut deklanasi dan inklanasi jarum. Adapun astrolab digunakan untuk menetukan lokasi menurut pengukuran tinggi matahari, terutama apabila kapal berada di tengah tengah lautan tanpa bisa melihat daratan. Melalui kedua alat navigasi tersebut dan kemampuan membaca peta, para pelaut dapat mengerti posisi mereka di lautan.


Sejak masa kuno pelaut indonesia telah memiliki kemampuan navigasi tradisional . keadaan iklim dan geografi di indonesia memungkinkan pelaut lokal menggunakan rasi bintang sebagai alat navigasi.